Rabu, 05 Januari 2011

Perbedaan Paradigma - Pendekatan Bisnis/Usaha

PERBEDAAN PARADIGMA -- Pendekatan Business/Marketing

Terlalu banyak macam jenis pilihan peluang (kesempatan) untuk melakukan bisnis dengan berbagai bentuk pemasaran telah membuat masyarakat "bingung" dan "mis-konsepsi" terhadap hal yang sebenarnya.

Berbagai macam penawaran beredar (berseliweran) di sekitar kita dengan menjanjikan hal yang "muluk" bahkan sampai dengan yang mengatakan akan mendapatkan "return" lebih mudah, lebih cepat dan lebih besar. HATI-HATI dengan PENAWARAN seperti tersebut !!

Ini telah mengakibatkan banyak sekali kekeliruan terjadi di masyarakat dalam hal ekspektasi, penerapan, dan bahkan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Beberapa contoh dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa banyak pihak/oknum yang menggunakan kedok usaha MLM, Investasi, Arisan Berantai dan lain sebagainya yang pada akhirnya merupakan jenis penipuan klasik yang dipoles menjadi tawaran menarik terkini.

Untuk memberikan informasi, persepsi,perspektif dan paradigma yang benar mengenai jenis pendekatan bisnis /marketing, berikut ini adalah gambaran beberapa konsep bisnis/marketing yang ada:
  1. Direct Selling ... 1 x 1000
  2. Multi Level Marketing ... 10 x 100
  3. Guerilla Marketing ... 100 x 10
  4. Network Marketing / Franchising ... 1000 x 1
  5. Referral Marketing ... 1000 x 10
  6. Intellectual Distribution ... 1000 x 100
  7. e-Commerce ... 1000^10

Deskripsi dari masing-masing pendekatan:
  • Direct Selling: berorientasi kental pada sales product ... tercermin dengan 1x1000 ... yaitu seorang salesman bisa menjual 1000 produk. Tetapi bila salesman tsb sakit, tidak akan ada penjualan/omset.
  • Multi Level Marketing: berorientasi pada perekrutan beberapa salesman untuk bisa menjual sehingga bisa mencapai omset lebih besar ... tercermin dengan 10x100 ... yaitu beberapa salesman (10 orang) menjual banyak (100) produk. Tetapi bila semua salesman sakit/tidak aktif, maka tidak akan ada penjualan/omset.
  • Guerilla Marketing: berorientasi pada membentuk sel-sel/kelompok kerja (seperti gerilyawan) yang mahir melakukan marketing (bukan sales) untuk bisa memasarkan produk ke target pasarnya ... tercermin dengan 100x10 ... yaitu para marketer (100 gerilyawan) aktif melakukan pemasaran beberapa (10) produk.
  • Network Marketing / Franchising: berorientasi pada pembentukan komunitas konsumen yang loyal yang mengkonsumsi produk ... tercermin dengan 1000x1 ... yaitu para konsumen (1000 orang) menggunakan sedikit (satu) produk saja. Bila para konsumen sakit, mereka tetap akan belanja rutin kebutuhan mereka alias omset penjualan tetap terjadi.
  • Referral Marketing: berorientasi pada konsumen yang loyal mengkonsumsi beberapa produk ... tercermin dengan 1000x10 ... yatu para konsumen loyal (1000 orang) menggunakan beberapa (10) produk. Bila para konsumen sakit, mereka tetap akan belanja rutin kebutuhan mereka alias omset penjualan tetap terjadi.
  • Intellectual Distribution: berorientasi pada rekomendasi dan distribusi oleh para konsumen kepada komunitas sekeliling mereka, karena para konsumen ini juga menjadi pelaku bisnisnya ... tercermin dengan 1000x100 ... yaitu para 1000 konsumen (sekaligus pebisnisnya) memberikan rekomendasi ke lingkungannya tentang sejumlah (100) produk/jasa yang mereka gunakan/nikmati/senangi dan mendistribusikannya kepada para pengguna.
  • e-Commerce: beorientasi pada komunitas konsumen yang luas yang dapat bertransaksi dengan tidak dibatasi waktu dan wilayah, juga sekaligus mereka bisa melakukan rekomendasi (referral) kepada lingkungannya dan bisa mendistribusikannya ... tercermin dengan 1000^10 ... yaitu para 1000 konsumen dapat melakukan variasi dari konsumsi, rekomendasi, pemasaran dan memiliki bisnisnya juga jalur distribusinya.
Sebagai analogi sederhana untuk mendapatkan gambaran terhadap setiap hal di atas. Ibaratnya BURGER bisa dijual dengan beberapa cara seperti:

1)Dijual di rumah

2)Dijual di gerobak di pinggir jalan

3)Dijual dengan dagang keliling asongan

4)Dijual di sebuah "rumah makan"

5)Dijual dengan cara seperti McDonald (franchise).


Sama-sama BURGER sebagai obyeknya, tetapi bila kita memilih salah satu tentunya ada konsekuensi logis jenis upaya yang akan terkait. Tapi bila kita ingin memiliki BISNIS BURGER yang SUKSES, tentunya kita akan mengambil pilihan seperti sistem McDonald (meskipun tidak lebih enak daripada yang dibuat di rumah).

Tulisan ini dibuat untuk meluruskan mis-persepsi dan mis-konsepsi yang terlanjur keliru dianut oleh masyarakat sehingga merugikan para pebisnis, pelaku usaha, produsen produk, penyedia jasa dan juga para konsumen.

Semoga ini bermanfaat dan dapat menjelaskan.


Salam Optimis,
 
ADE FERNANDA NASUTION
Robert Kiyosaki Implementary
081347507265
beauty_future21@yahoo.co.uk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar